Filosofi Kopi
Judul : Filosofi Kopi
Penulis : Dee
Penerbit : Bentang Pustaka
Jumlah halaman : 152
Sinopsis Filosofi Kopi
Jody (Rio Dewanto), seorang pemuda lulusan luar sedang berusaha mati-matian untuk mengembangkan kedai kopi miliknya bareng sama sahabat dari masa kecilnya Ben (Chico Jecricho). Kedai yang diberi nama Filosofi Kopi ini dibangun di atas bekas toko kelontong milik orang tua Jody yang ternyata meninggalkan hutang besar.
Bersama dengan Ben yang merupakan penggila kopi, Filosofi Kopi menjadi terkenal meskipun kedai tersebut tidak dilengkapi dengan WiFi seperti kedai kopi kekinian.
Hingga suatu saat, Jody dan Ben menerima tantangan untuk membuat kopi terenak yang bisa memberikan hadiah uang cukup besar untuk melunasi hutang-hutang mereka. Ben pun bereksperimen dan menciptakan Perfecto. Kopi terenak di Indonesia. Sayangnya El, seorang perempuan cantik, seorang blogger dengan spesialisasi coffee tasting menyangkal hal tersebut. Baginya kopi terenak adalah Kopi Tiwus.
Bagaimana mereka kemudian bisa memenangkan tantangan kemudian mewarnai sisa cerita film ini.
Quote Filosofi Kopi
“Seindah apa pun huruf terukir, dapatkah ia bermakna apabila tak ada jeda? Dapatkan ia dimengerti jika tak ada spasi? Bukankah kita baru bisa bergerak jika ada jarak? Dan saling menyayang bila ada ruang?”
― Dee Lestari, Filosofi Kopi: Kumpulan Cerita dan Prosa Satu Dekade
“Pegang tanganku, tapi jangan terlalu erat, karena aku ingin seiring dan bukan digiring.(Spasi)”
― Dee Lestari, Filosofi Kopi: Kumpulan Cerita dan Prosa Satu Dekade
“Kita tidak bisa menyamakan kopi dengan air tebu. Sesempurna apa pun kopi yang kamu buat, kopi tetap kopi, punya sisi pahit yang tak mungkin kamu sembunyikan.”
― Dee Lestari, Filosofi Kopi: Kumpulan Cerita dan Prosa Satu Dekade
“Seindah apa pun huruf terukir, dapatkah ia bermakna apabila tak ada jeda?
Dapatkah ia dimengerti jika tak ada spasi?”
― Dee Lestari, Filosofi Kopi: Kumpulan Cerita dan Prosa Satu Dekade
“Bila engkau ingin satu, maka jangan ambil dua. Karena satu menggenapkan, tapi dua melenyapkan. Mencari Herman”
― Dee Lestari, Filosofi Kopi: Kumpulan Cerita dan Prosa Satu Dekade
“Pegang tanganku, tapi jangan terlalu erat, karena aku igin seiring dan bukan digiring.”
― Dee Lestari, Filosofi Kopi: Kumpulan Cerita dan Prosa Satu Dekade
“Hidup akan mengikis apa saja yang memilih diam, memaksa kita untuk mengikuti arus agungnya yang jujur tetapi penuh rahasia. Kamu, tidak terkecuali.”
― Dee Lestari, Filosofi Kopi: Kumpulan Cerita dan Prosa Satu Dekade
“Dia, yang tidak pernah kamu mengerti. Dia, racun yang membunuhmu perlahan. Dia, yang kamu reka dan kamu cipta. Sebelah darimu menginginkan agar dia datang, membencimu hingga muak dia mendekati gila, menertawakan segala kebodohannya, kehilafan untuk sampai jatuh hati kepadamu, menyesalkan magis yang hadir naluriah setiap kalian berjumpa. Akan kamu kirimkan lagi tiket bioskop, bon restoran, semua tulisannya --dari mulai nota sebaris sampai doa berbait-bait. Dan beceklah pipi-nya karena geli, karena asap dan abu dari benda-benda yang dia hanguskan--bukti bahwa kalian pernah saling tergila-gila--beterbangan masuk ke matanya. Semoga dia pergi dan tak pernah menoleh lagi. Hidupmu, hidupnya, pasti akan lebih mudah.”
― Dee Lestari, Filosofi Kopi: Kumpulan Cerita dan Prosa Satu Dekade
“Jangan lumpuhkan aku dengan mengatasnamakan kasih sayang.”
― Dee Lestari, Filosofi Kopi: Kumpulan Cerita dan Prosa Satu Dekade
“Di tengah gurun yang tertebak, jadilah salju abadi. Embun pagi tak akan kalahkan dinginmu, angin malam akan menggigil ketika melewatimu, oase akan jengah, dan kaktus terperangah. Semua butir pasir akan tahu jika kau pergi, atau sekadar bergerak dua inci.
Dan setiap senti gurun akan terinspirasi karena kau berani beku dalam neraka, kau berani putih meski sendiri, karena kau… berbeda.”
― Dee Lestari, Filosofi Kopi: Kumpulan Cerita dan Prosa Satu Dekade
“Aku sudah diperalat oleh seseorang yang merasa punya segala-galanya, menjebakku dalam tantangan bodoh yang cuma jadi pemuas egonya saja, dan aku sendiri terperangkap dalam kesempurnaan palsu, artifisial! serunya gemas, "Aku malu kepada diriku sendiri, kepada semua orang yang sudah kujejali dengan kegomalan Ben's Perfecto."
Gombal? Aku positif tidak mengerti.
"Dan kamu tahu apa kehebatan kopi tiwus itu?" katanya dengan tatapan kosong, "Pak Seno bilang, kopi itu mampu menghasilkan reaksi macam-macam. Dan dia benar. Kopi tiwus telah membuatku sadar, bahwa aku ini barista terburuk. Bukan cuma sok tahu, mencoba membuat filosofi dari kopi lalu memperdagangkannya, tapi yang paling parah, aku sudah merasa membuat kopi paling sempurna di dunia. Bodoh! Bodoooh!" Filosofi Kopi”
― Dee Lestari, Filosofi Kopi: Kumpulan Cerita dan Prosa Satu Dekade
“Banyak sekali orang yang doyan kopi tiwus ini. Bapak sendiri ndak ngerti kenapa. Ada yang bilang bikin seger, bikin tentrem, bikin sabar, bikin tenang, bikin kangen... hahaha! Macem-macem! Padahal kata Bapak sih biasa-biasa saja rasanya, Mas. Barangkali, memang kopinya yang ajaib. Bapak ndak pernah ngutak-ngutik, tapi berbuah terus. Dari kali pertama tinggal di sini, kopi itu sudah ada. Kalau 'tiwus' itu asalnya dari almarhumah anak gadis Bapak. waktu kecil dulu, tiap dia lihat bunga kopi di sini, dia suka ngomong 'tiwus-tiwus' gitu," dengan asyik Pak Seno mendongeng. Filosofi Kopi”
― Dee Lestari, Filosofi Kopi: Kumpulan Cerita dan Prosa Satu Dekade
Filosofi Kopi
Reviewed by Unknown
on
20.01
Rating:
Reviewed by Unknown
on
20.01
Rating:

Post a Comment